Adaptasi Di awal Ramadhan kerap terasa menantang, seolah tubuh diminta menyetel ulang jam biologisnya Untuk waktu singkat. Ritme yang biasanya mengikuti terbitnya matahari mendadak harus maju beberapa jam, memaksa mata terbuka Di langit masih gelap. Perubahan ini tidak berhenti Di urusan melawan kantuk.
Tubuh juga perlu penyesuaian Untuk sisi asupan energi. Pilihan menu sahur menjadi krusial Lantaran Untuk sanalah “bekal” Untuk berpuasa seharian ditentukan. Energi yang stabil Dari pagi membantu Karya tetap lancar hingga waktu berbuka tiba.
Keadaan makin terasa genting Di waktu sahur tinggal hitungan menit Lantaran terlambat bangun. Pikiran langsung berpacu Bersama jarum jam. Bukan hanya memikirkan kandungan gizi yang ideal, melainkan juga mencari menu yang realistis disiapkan Untuk beberapa menit saja. Untuk Kebugaran seperti ini, keputusan yang diambil sering kali spontan dan kurang terencana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal sahur berperan sebagai fondasi energi Sebelumnya berpuasa. Asupan yang terlalu minim atau hanya didominasi gula sederhana bisa membuat tubuh cepat lemas dan sulit fokus Di siang hari.
Berikut beberapa tips sahur agar tetap optimal meski disiapkan secara terburu-buru:
Penuhi Kebutuhan Cairan Terlebih Dahulu
Waktu sahur yang mepet seringkali hanya fokus Di Citarasa, Sambil Itu urusan minum terabaikan. Padahal, tubuh yang Berencana berpuasa lebih Untuk 12 jam sangat bergantung Di pemenuhan kebutuhan cairan Di sahur.
Air berperan menjaga volume darah tetap stabil, membantu distribusi oksigen dan zat gizi Hingga seluruh sel. Tanpa cukup cairan, tubuh lebih mudah terasa lemas, pusing, Justru sulit berkonsentrasi. Kebugaran dehidrasi ringan saja sudah dapat memengaruhi fokus dan suasana hati, sebagaimana dijelaskan Untuk sejumlah Studi tentang hidrasi dan Penampilan kognitif.
Untuk situasi terburu-buru, usahakan tetap minum setidaknya dua Gelas air putih Di sahur. Minum bisa dibagi Sebelumnya dan sesudah makan agar tidak terasa begah. Air putih tetap menjadi pilihan utama dibandingkan minuman manis yang justru bisa memicu lonjakan gula darah.
Tidak semua orang sempat menyiapkan menu sahur Dari malam hari. Ketika waktu sahur sudah sangat terbatas, Kunci utamanya adalah memilih Citarasa yang minim proses penyajian Tetapi tetap memenuhi kebutuhan zat gizi utama. Fokuskan Di sumber karbohidrat kompleks, protein, dan serat agar energi dan rasa kenyang lebih Konsisten lama.
Jika nasi sudah tersedia, nasi merah bisa menjadi pilihan Lantaran dicerna lebih lambat dibandingkan nasi putih. Padukan Bersama telur rebus yang praktis, sayur bayam rebus, serta beberapa butir kurma. Kombinasi ini terlihat sederhana, tetapi komposisinya cukup lengkap. Karbohidrat kompleks memberi suplai energi bertahap, protein membantu mempertahankan rasa kenyang, Sambil Itu serat Untuk sayur dan kurma membantu memperlambat penyerapan gula.
Untuk Kebugaran nasi belum dimasak dan waktu sahur tinggal sedikit, alternatif lain tetap tersedia. Oatmeal yang cukup diseduh air panas bisa menjadi pengganti karbohidrat kompleks. Rebusan ubi atau singkong juga relatif cepat disiapkan dan Memperoleh indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan roti putih atau nasi putih.
Studi yang dipublikasikan Untuk American Journal of Clinical Nutrition Menunjukkan bahwa asupan protein yang cukup dapat Meningkatkan rasa kenyang dan menurunkan keinginan makan beberapa jam setelahnya. Protein memengaruhi hormon kenyang seperti peptide YY dan GLP-1, Supaya perut terasa penuh lebih lama.
Di Di Yang Sama, karbohidrat kompleks dan serat berperan menjaga kestabilan gula darah. Studi Untuk Journal of Nutrition menjelaskan bahwa Citarasa tinggi serat memperlambat pengosongan lambung dan penyerapan glukosa, Supaya lonjakan gula darah tidak terjadi secara drastis. Tubuh pun tidak Merasakan “crash” energi Di pagi hari.
Pendekatan ini juga selaras Bersama prinsip gizi seimbang yang dianjurkan Kementerian Kesejaganan Republik Indonesia. Isi Piring tidak harus mewah, tetapi sebaiknya tetap memuat sumber karbohidrat, lauk berprotein, serta sayur atau buah. Untuk waktu terbatas, kombinasi sederhana jauh lebih baik dibandingkan hanya makan roti tawar dan minum teh manis atau Justru melewatkan sahur sama sekali.
Bangun terlambat bukan berarti sahur harus dilewatkan. Untuk lima menit yang tersisa, menu sederhana tetap bisa disiapkan Pada fokus Di bahan yang praktis dan minim proses. Contohnya seperti menu yang sudah dijelaskan Di atas, kombinasi menu tadi memang terlihat sederhana, tetapi tetap memenuhi prinsip karbohidrat kompleks, protein, dan serat yang membantu energi bertahan lebih lama.
Persiapan juga bisa dilakukan Dari malam hari agar subuh tidak terasa terburu-buru. Merebus telur, menanak nasi, atau menyiapkan potongan sayur dan buah Untuk wadah tertutup bisa memangkas waktu persiapan sahur. Strategi ini bisa menjadi antisipasi ketika telat bangun sahur.
Tetapi yang tidak kalah penting adalah cara penyimpanannya. Citarasa matang sebaiknya segera didinginkan dan disimpan Untuk wadah bersih serta tertutup Pertemuan Di lemari pendingin Untuk mencegah kontaminasi bakteri. Di Berencana dikonsumsi, panaskan kembali hingga suhu cukup Sebelumnya disantap. Prinsip Keselamatan Ketahanan Pangan yang juga ditekankan Dari Kementerian Kesejaganan Republik Indonesia mengingatkan bahwa kebersihan dan penyimpanan yang tepat sama pentingnya Bersama kandungan gizinya.
Sahur kilat bisa dilakukan ketika bangun telat dan tetap memenuhi kebutuhan energi tubuh seharian. Bersama pilihan bahan yang tepat dan sedikit antisipasi, waktu lima menit pun tetap cukup Untuk mengisi energi Sebelumnya menjalani puasa seharian.
Halaman 2 Untuk 3
Simak Video “Video: BGN Batasi Ultra Processed Food Untuk MBG Di Ramadan“
(mal/up)
Sahur Sehat Awet Kenyang
4 Konten
Memilih menu sahur merupakan Pada Untuk strategi Untuk menjalani puasa Ramadan Bersama lancar dan nyaman. Salah pilihan menu bisa berakibat lemas seharian, atau cepat lapar Sebelumnya waktu berbuka tiba.
Konten Lanjutnya
Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Rahasia Sahur Kilat Awet Kenyang Di Kepepet Telat Bangun











