Obesitas Di anak masih menjadi masalah Kesejaganan yang Lebihterus sering ditemukan. Banyak orang tua mengira Situasi ini hanya dipicu konsumsi junk food, padahal kebiasaan sehari-hari seperti pola makan yang kurang tepat juga bisa berperan Untuk kenaikan berat badan anak.
Topik tersebut turut menjadi perhatian Untuk kegiatan Belajar gizi anak yang digelar Sarihusada. Melewati Langkah skrining dan penyuluhan Perkembangan anak Di jumlah peserta terbanyak, perusahaan ini Malahan berhasil meraih dua Pencapaian MURI atas komitmennya Untuk Memperbaiki literasi gizi Kelompok.
Untuk kesempatan itu, Ahli Kebugaran mengingatkan bahwa salah satu kebiasaan yang sering luput Di perhatian adalah mengatur porsi yang tepat. Prinsipnya, anak yang sudah Merasakan obesitas nutrisinya sebaiknya dijaga agar asupan kalori tidak berlebihan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu, kebiasaan apa saja yang perlu diperhatikan orang tua agar pola makan anak tetap seimbang dan berat badannya lebih terkontrol?
Atur Porsi yang Sesuai
Susu sering Disorot sebagai minuman yang selalu baik Bagi mendukung Perkembangan anak. Akan Tetapi, Di anak yang sudah Merasakan obesitas, konsumsi susu tetap perlu diperhatikan Lantaran juga menyumbang asupan kalori harian.
Jika dikonsumsi Untuk jumlah berlebihan, susu dapat menambah total energi yang masuk Hingga tubuh Supaya Berpotensi Bagi mempercepat kenaikan berat badan. Lantaran itu, pemberian susu Di anak obesitas sebaiknya tidak berlebihan dan tetap disesuaikan Di kebutuhan gizinya.
Ahli Kebugaran spesialis anak dr Ian Suryadi Suteja, M.Med.Sc, SpA menjelaskan bahwa anak yang sudah Merasakan obesitas sebaiknya tidak mengonsumsi susu Untuk jumlah berlebihan setiap hari.
“Susu tidak boleh lebih Di 450 ml sehari. Banyak sekali pasien saya yang minum susu sampai satu liter sehari Lantaran Disorot bisa membuat tinggi badan atau berat badan bagus, padahal itu tidak dianjurkan,” jelasnya, Senin (9/3/2026).
Ia juga mengingatkan bahwa Di anak yang sudah Merasakan obesitas, sebaiknya tidak diberikan susu Di kandungan kalori tinggi. Sebagai gantinya, orang tua dapat memilih susu biasa seperti fresh milk Di jumlah yang tetap dibatasi agar kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi tanpa menambah asupan kalori berlebihan.
Perbaiki Pola Makan Anak Secara Bertahap
Pengaturan pola makan juga menjadi langkah penting Untuk mengontrol berat badan anak. Akan Tetapi, perubahan pola makan sebaiknya tidak dilakukan secara drastis agar anak tetap nyaman dan tidak merasa tertekan.
Ahli Kebugaran menjelaskan bahwa Di anak obesitas, porsi makan tidak harus langsung dipotong secara ekstrem. Perubahan dapat dilakukan secara bertahap, misalnya Di Memangkas frekuensi makan jika Sebelumnya terlalu sering.
“Kalau makan sehari enam kali, ya turunin perlahan Dari Sebab Itu lima kali atau empat kali. Mungkin Saja jumlahnya masih sama, tapi proporsi kalorinya dikurangin. Jangan yang goreng-gorengan,” jelas dr Ian.
Hingga Di Itu, orang tua juga dianjurkan memperhatikan jenis Konsumsi yang dikonsumsi anak. Konsumsi tinggi gula maupun gorengan sebaiknya dibatasi dan dapat diganti Di pilihan camilan yang lebih sehat, seperti buah. Di pola makan yang lebih seimbang, asupan kalori anak dapat lebih terkontrol Supaya membantu menjaga berat badan tetap sehat.
Anak Perlu Aktif Bergerak
Selain pola makan, Olah Raga juga berperan penting Untuk membantu mengontrol berat badan anak. Sayangnya, banyak anak kini lebih sering menghabiskan waktu Di Karya sedentari seperti bermain gawai atau menonton Tv.
Padahal, tubuh anak tetap membutuhkan Olah Raga agar energi yang masuk Di Konsumsi dapat digunakan secara optimal. Olah Raga juga membantu menjaga Kondisifisik tubuh sekaligus mendukung Perkembangan yang sehat.
Ahli Kebugaran menyarankan anak Bagi rutin melakukan Olah Raga Di intensitas Lagi hingga berat, seperti Latihan atau permainan aktif Hingga luar ruangan. Karya ini idealnya dilakukan Disekitar tiga kali Untuk seminggu Di durasi Disekitar 30 menit.
Di kombinasi pengaturan pola makan serta Olah Raga yang cukup, pengelolaan berat badan anak dapat dilakukan secara lebih sehat dan bertahap tanpa Menyediakan tekanan berlebihan Di anak.
Meski begitu, Ahli Kebugaran mengingatkan bahwa tidak semua anak yang terlihat gemuk bisa langsung dikategorikan obesitas. Salah satu tanda yang kerap diperhatikan orang tua adalah lipatan lemak Di tubuh anak, misalnya Di Pada lengan yang terlihat seperti “roti sobek”.
Akan Tetapi tanda tersebut tidak bisa menjadi satu-satunya patokan Bagi menentukan obesitas.
“Kalau lipatan-lipatan terlalu banyak itu bisa Dari Sebab Itu salah satu tanda. Tapi kita tetap harus screening menggunakan kurva Perkembangan,” jelasnya.
Ia menambahkan, ada juga anak yang terlihat gemuk tetapi Memiliki tinggi badan yang juga tinggi Supaya proporsi tubuhnya masih tergolong normal.
“Banyak juga anak yang berat badannya gemuk banget, tapi tingginya juga tinggi. Begitu diklasifikasi ternyata tidak obesitas, Dari Sebab Itu harus dilihat Di kurvanya,” tambahnya.
Lantaran itu, penilaian obesitas Di anak sebaiknya tidak hanya berdasarkan penampilan fisik, melainkan Melewati pemeriksaan kurva Perkembangan Dari tenaga Kesejaganan.
Halaman 2 Di 3
Simak Video “Health Corner: Peluncuran Sosialisasi Politik Pejuang Berat Badan Anak“
(fti/up)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Anak Telanjur Obesitas, Bisakah Tumbuh Kembangnya Optimal?











