Wabah flu burung merebak Di lebih Bersama dua bulan Ke sebuah peternakan cerpelai (mink) Ke Utah, Amerika Serikat. Para ahli memperingatkan wabah tersebut Berpotensi Bagi memicu Penyebara Nmassal Ke manusia. Akan Tetapi, pemerintah setempat dinilai belum Memutuskan langkah serius Bagi menghentikan penyebarannya.
Investigasi ProPublica yang dipublikasikan Ke 26 Oktober 2026 Membeberkan wabah tersebut terjadi Ke C&T Fenn Farms, peternakan yang memelihara ribuan cerpelai Bagi diambil bulunya. Lokasinya Disekitar satu jam perjalanan Hingga selatan Salt Lake City.
Mikroba flu burung yang telah menyebar Ke peternakan-peternakan Amerika Serikat Di empat tahun terakhir diketahui telah menyebabkan dua orang meninggal Setelahnya tertular Bersama hewan yang terinfeksi. Hingga Di Ini, belum ditemukan bukti bahwa Mikroba tersebut dapat menular antarmanusia secara berkelanjutan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mikroba itu masih Mengadaptasi Bagi menginfeksi sel burung, bukan sel Ke saluran pernapasan manusia. Padahal, agar dapat menyebar luas Ke manusia, Mikroba perlu Merasakan perubahan yang memungkinkannya menginfeksi saluran pernapasan dan menular Melewati batuk maupun bersin.
Akan Tetapi, para ahli memperingatkan Kebugaran tersebut dapat berubah Melewati mutasi Mikroba.
Salah satu skenario yang dikhawatirkan adalah munculnya hewan perantara yang rentan Di Mikroba flu burung sekaligus Mikroba yang menginfeksi manusia. Di Kebugaran tertentu, mutasi dapat menghasilkan varian Terbaru yang mampu menembus penghalang antarspesies.
Cerpelai menjadi salah satu hewan yang dikhawatirkan berperan Di proses tersebut. Hewan ini Memiliki paru-paru dan saluran pernapasan Bersama karakteristik seluler yang sangat mirip Bersama manusia. Cerpelai juga diketahui dapat terinfeksi dan menularkan jenis Mikroba influenza lain, serta pernah terinfeksi COVID-19.
Kebugaran peternakan Bersama ribuan hewan yang hidup berdekatan dinilai dapat Meningkatkan Kemungkinan Mikroba menyebar dan Merasakan perubahan genetik.
Respons Pemerintah Dinilai Lamban
Menurut laporan ProPublica, otoritas Pertanian Utah telah mengetahui adanya kematian cerpelai akibat flu burung Ke C&T Fenn Farms Dari pertengahan Agustus. Informasi tersebut terungkap Melewati dokumen komunikasi yang diperoleh berdasarkan undang-undang keterbukaan informasi publik Bangsa Pada.
Meski demikian, pemerintah setempat dinilai tidak segera Memutuskan langkah Bagi menghentikan wabah dan Memangkas risiko penularan Hingga manusia.
Praktisi Medis hewan Bangsa Pada Utah, Amanda Price, Melakukanupaya meminta Pemberian Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA). Akan Tetapi, USDA Mengungkapkan tidak Memiliki kewenangan regulasi khusus Bagi cerpelai maupun Imunisasi yang disetujui Bagi diberikan kepada hewan tersebut.
Sambil Itu, pejabat Pusat Pengendalian dan Upaya Mencegah Penyakit Amerika Serikat (CDC) sempat berkomunikasi Bersama sejumlah pejabat Kesejajaran Utah yang terlibat Di penanganan wabah. Akan Tetapi, berdasarkan investigasi tersebut, CDC tidak pernah berbicara langsung Bersama Price, dan Price juga tidak menghubungi lembaga tersebut.
Tidak adanya aturan federal khusus Bagi menangani flu burung Ke cerpelai turut mempersulit respons pemerintah.
Padahal, penanganan wabah flu burung Ke unggas Memiliki prosedur yang lebih jelas. Jika satu ekor ayam dinyatakan positif terinfeksi, pemerintah AS mewajibkan pemusnahan seluruh unggas Di satu kawanan Bagi mencegah penyebaran Hingga peternakan lain dan melindungi Kesejajaran Komunitas. Peternak juga Memperoleh kompensasi atas kerugian tersebut.
Akan Tetapi, Aturan serupa tidak diterapkan Ke peternakan cerpelai Ke Utah.
Price mengatakan wabah tersebut telah Memberi dampak besar Bagi pemilik peternakan. Menurutnya, usaha itu merupakan hasil kerja keras pemilik Di bertahun-tahun.
“Ini adalah hasil kerja seumur hidupnya yang kini dia lihat hancur,” kata Price kepada ProPublica.
Dia berharap Komunitas dapat memahami dampak kemanusiaan yang dialami pemilik peternakan akibat wabah tersebut.
Pakar Minta Cerpelai Dimusnahkan
Sejumlah pakar influenza menilai pemerintah seharusnya segera memusnahkan cerpelai yang dipelihara Ke peternakan tersebut. Langkah itu dinilai penting Bagi menghentikan penyebaran Mikroba dan Memangkas Kemungkinan munculnya varian Terbaru yang Berpotensi Bagi menular Hingga manusia.
Tom Peacock, peneliti influenza unggas Ke Pirbright Institute, mengatakan Bangsa-Bangsa lain yang Berjuang Bersama Peristiwa Pidana H5N1 Ke peternakan hewan berbulu telah melakukan pemusnahan Di waktu relatif cepat.
“Fakta bahwa langkah pertama bukan langsung memusnahkan hewan dan mencari tahu persoalannya Lalu sangat mengkhawatirkan Bagi saya,” ujarnya.
Akan Tetapi, menurut laporan tersebut, pemerintah Utah tidak pernah secara serius Mengkaji pemusnahan seluruh cerpelai.
Perwakilan industri perdagangan bulu memperingatkan Price bahwa langkah tersebut dapat menghancurkan usaha peternakan hingga berdampak Ke industri secara keseluruhan. Pasalnya, peternak membutuhkan waktu puluhan tahun Bagi Membuat garis keturunan cerpelai Bersama karakteristik genetik tertentu.
Price mengakui pilihan penanganan yang tersedia terbatas. Dia mengatakan pejabat USDA tidak mendesaknya Bagi memusnahkan cerpelai maupun Memberi kesan bahwa Infeksi flu burung Ke hewan tersebut Memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan Infeksi Ke hewan lain, seperti bebek dan sapi.
Pekerja Peternakan Tak Dipantau Secara Aktif
Selain tidak adanya langkah pemusnahan, investigasi tersebut juga menemukan bahwa pekerja peternakan tidak dipantau secara aktif Bagi mendeteksi Tanda-Tanda flu burung. Padahal, CDC Memiliki panduan pemantauan Bagi orang yang terpapar hewan terinfeksi.
Risiko paparan Di pekerja dinilai cukup besar. Cerpelai dapat bersin, melarikan diri Bersama Markas, hingga menyerang orang yang mendekatinya.
Seorang pekerja peternakan cerpelai Ke Disekitar lokasi, yang berbicara Di bahasa Spanyol, Menunjukkan bekas luka akibat serangan hewan tersebut.
“Anda menjadi takut Sebab hewan sialan itu menggigit dan mencakar,” katanya kepada ProPublica.
Ke Bangsa Pada Washington, otoritas Kesejajaran Di ini Di melacak kontak seseorang yang Merasakan Tanda-Tanda Setelahnya terpapar sapi perah yang terinfeksi flu burung. Pasien tersebut menjalani isolasi Ke Rumah.
Sebelumnya, otoritas Kesejajaran Komunitas Utah juga melakukan pemantauan aktif Di orang-orang yang berisiko terpapar. Akan Tetapi, langkah tersebut dihentikan Setelahnya muncul keluhan Bersama rekan-rekan mereka Ke departemen Pertanian bahwa para peternak merasa terganggu.
Epidemiolog Penyakit pernapasan Ke Departemen Kesejajaran Utah, Pamela Gomez Pinedo, mengatakan pemantauan aktif membuat sejumlah peternakan enggan bekerja sama Bersama petugas Kesejajaran.
“Pemantauan aktif yang kami lakukan membuat peternakan tidak ingin bekerja sama Bersama mereka,” ujarnya.
Dampaknya, petugas Kesejajaran Komunitas Merasakan kesulitan memperoleh informasi terperinci Bersama otoritas Pertanian.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran Sebab keterlambatan mendeteksi Infeksi Ke manusia dapat mempersempit kesempatan Bagi mengendalikan penyebaran Mikroba Dari dini. Para ahli menilai penanganan wabah Ke hewan perlu Mengkaji bukan hanya kerugian ekonomi peternak, tetapi juga risiko Kesejajaran Komunitas yang lebih luas.
Halaman 2 Bersama 2
(naf/naf)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Flu Burung Merebak Ke Peternakan Cerpelai AS, Pakar Khawatir Bisa Picu Penyebara Nmassal











