Harapan Terbaru Pasien Gagal Ginjal Lewat CAPD, Cuci Darah Tak Perlu Di RS

Jakarta

Di lebih Bersama satu dekade, hidup Rudi (bukan nama sebenarnya) seolah terpaku Di jarum jam Puskesmas. Sebagai tulang punggung keluarga, ia harus merelakan dua hari Untuk sepekan Untuk mengantre, Berjuang Bersama tusukan jarum, dan meninggalkan pekerjaannya Untuk menjalani hemodialisis (HD) atau cuci darah konvensional.

Baginya Di itu, rutinitas yang melelahkan ini adalah satu-satunya napas yang tersisa Untuk bertahan hidup. Ia tidak pernah menyangka bahwa Di luar ruang Perawatan Medis itu, ada pilihan lain yang jauh lebih manusiawi Untuk kemandiriannya.

Penyesalan Rudi Terbaru muncul ketika ia bergabung Bersama komunitas pasien. Di sanalah ia pertama kali mendengar tentang CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis), sebuah metode dialisis mandiri Lewat rongga perut yang bisa dilakukan Di Rumah. Kesadaran itu datang terlambat, memicu pertanyaan getir yang sering menghantui para pasien gagal ginjal Di Indonesia: mengapa informasi sepenting ini tidak sampai Di telinga mereka Dari awal?


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dominasi Hemodialisis dan Minimnya Pelatihan

Kisah Rudi hanyalah satu Bersama ribuan potret serupa Di tanah air. Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Tony Richard Samosir Untuk keterangannya menyoroti bahwa hingga kini, hampir 98 persen pasien gagal ginjal Di Indonesia langsung diarahkan Di metode hemodialisis. Sayangnya, opsi terapi lain seperti CAPD atau transplantasi ginjal sering kali tidak dipaparkan secara utuh.

“Di Indonesia hampir 98% pasien gagal ginjal langsung masuk Di hemodialisis, Sambil Itu pilihan terapi lain seperti CAPD atau transplantasi sering tidak dijelaskan secara utuh kepada pasien. Untuk kami Di KPCDI, ini bukan sekadar soal metode terapi, tetapi soal hak pasien Untuk Merasakan informasi yang lengkap dan menentukan pilihan terapinya sendiri,” ujar Tony.



CAPD sebagai Jembatan Kemandirian Pasien

Berbeda Bersama cuci darah Di Puskesmas yang menyita waktu berjam-jam, CAPD menawarkan fleksibilitas yang sangat dibutuhkan Dari pasien yang masih aktif bekerja. Bersama memasukkan cairan pembersih Lewat kateter Di perut secara mandiri, pasien bisa tetap produktif tanpa harus terikat Di jadwal kunjungan Puskesmas yang kaku. Selain lebih praktis, metode ini juga menurunkan risiko Penyakit Menyebar nosokomial dan Menyediakan stabilitas Kesejajaran yang lebih konsisten Untuk jantung serta pembuluh darah.

Bersama sisi Aturan nasional, pemerintah Lewat BPJS Kesejajaran sebenarnya telah Menyediakan Dukungan penuh. Tarif CAPD telah diatur Untuk skema yang mencakup seluruh kebutuhan Ekspedisi hingga biaya pengiriman alat Di Rumah pasien.

Jika dibandingkan secara akumulatif, biaya CAPD cenderung lebih efisien dibandingkan hemodialisis yang memerlukan biaya operasional Puskesmas yang tinggi serta biaya transportasi pasien yang tidak sedikit.

Bersama sisi pembiayaan, terapi CAPD juga telah diatur Untuk Permenkes Nomor 3 Tahun 2023 sebagai Tarif Non-Indonesian Case Based Group (non INA-CBG) Bersama besaran Di Rp8 juta per bulan. Tarif tersebut sudah mencakup bahan habis pakai, jasa pelayanan medis, serta distribusi Ekspedisi terapi Di Rumah pasien.

Sebagai perbandingan, klaim BPJS Kesejajaran Untuk hemodialisis Lewat skema INA-CBG berkisar Rp820 ribu hingga Rp1,2 juta per sesi, tergantung kelas Puskesmas dan wilayahnya.

“Pasien gagal ginjal Berencana menjalani terapi ini seumur hidup. Lantaran itu, pasien tidak boleh hanya menjadi objek Terapi, tetapi harus menjadi subjek yang memahami dan memilih terapinya sendiri,” tambah Tony.

Tony berharap Pelatihan mengenai pilihan terapi dialisis menjadi Pada Bersama standar pelayanan pasien gagal ginjal, Agar setiap pasien memahami opsi terapi yang tersedia Sebelumnya memutuskan menjalani dialisis jangka panjang.

Halaman 2 Bersama 2

Simak Video “Video: Wamenkes Pastikan Status PBI BPJS Pasien Cuci Darah Sudah Aktif Lagi



Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Harapan Terbaru Pasien Gagal Ginjal Lewat CAPD, Cuci Darah Tak Perlu Di RS