Jakarta, CNN Indonesia —
Penjualan Kendaraan Pribadi Di China diperkirakan Merasakan stagnasi tahun ini berkaca Untuk Situasi pasar Di 2025.
Penjualan Kendaraan Pribadi Di pasar Kendaraan Pribadi terbesar dunia tersebut memang tumbuh atau naik 3,9 persen Di 2025, tapi itu melambat jika dibandingkan Di 2024 yang Merasakan Perkembangan sebesar 5,3 persen.
Pencapaian 2025 juga Memiliki catatan tersendiri lantaran laju pertumbuhannya dinilai paling lambat Untuk tiga tahun terakhir, menurut data Untuk China Passenger Car Association (CPCA).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Di Yang Sama Kendaraan Pribadi Elektrik dan plug-in hybrid diproyeksi tetap populer, Justru kini telah unggul Untuk kendaraan berbahan bakar bensin. Tetapi, Perkembangan penjualan kendaraan jenis ini melambat menjadi 17,6 persen Di 2025, Sambil Itu Di 2024 pertumbuhannya mencapai 40,7 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di 2025, permintaan domestik terasa makin melemah Di kuartal terakhir, akibat banyak kota dan provinsi Mengurangi atau Justru menangguhkan Bantuan Fluktuasi Harga Sebagai Inisiatif tukar tambah Kendaraan Pribadi akibat kekurangan dana.
Hal ini memperparah persaingan dan Mendorong produsen Kendaraan Pribadi Sebagai cepat-cepat ekspansi Di luar negeri guna menutup pasar domestik yang lesu.
Produsen Kendaraan Pribadi Elektrik China BYD mencatat Perkembangan penjualan 2025 menjadi yang terlemah Untuk lima tahun terakhir meski Produk Ekspor mencapai Pencapaian lebih Untuk 1 juta kendaraan.
Di satu sisi, pengapalan Kendaraan Pribadi China secara keseluruhan Menimbulkan Kekhawatiran 19,4 persen menjadi 5,79 juta unit Di 2024, Sambil Itu Produk Ekspor EV murni melonjak 48,8 persen menjadi 1,52 juta unit, menurut data CPCA.
Sekretaris Jenderal CPCA Cui Dongshu mengatakan sektor ini diperkirakan berada Di bawah tekanan, Sambil Itu Perkembangan Produk Ekspor EV kemungkinan menurun. Sebabnya, prospek Kendaraan Listrik lebih lemah dan harga Energi yang menurun.
Tetapi, Produk Ekspor Kendaraan Pribadi plug-in hybrid diperkirakan tetap kuat tahun ini, demikian melansir Reuters, Senin (12/1).
Prakiraan CPCA mengenai stagnasi penjualan Kendaraan Pribadi domestik tahun ini dapat menempatkan pasar Kendaraan Pribadi China Di tahun terburuk Sebelum 2020, atau Di Bangsa dilanda Penyebara Nmassal.
Menurut S&P Internasional Ratings, perpanjangan Bantuan Fluktuasi Harga Kendaraan Pribadi sebagai Pada Untuk Inisiatif tukar tambah tidak Akansegera mampu mencegah Penurunan Permintaan. Lembaga pemeringkat tersebut juga menyebut skema Bantuan Fluktuasi Harga tukar tambah yang direvisi menambah tekanan Di perusahaan seperti BYD dan Geely.
Bantuan Fluktuasi Harga Kendaraan Pribadi Di China Sebelumnya Itu diberikan 20.000 yuan (Di Rp48 juta) per unit Sebagai tukar tambah Kendaraan Pribadi lama Di EV. Tetapi Untuk skema yang diperpanjang, Bantuan Fluktuasi Harga Memiliki Syarat Terbaru yang Berpotensi Sebagai Mengurangi insentif Untuk kendaraan berharga lebih rendah, padahal itu menjadi mayoritas penjualan Kendaraan Pribadi Terbaru Di China.
Survei Asosiasi Dealer Kendaraan Pribadi China Menunjukkan, sebanyak 41 persen dealer Mengantisipasi target penjualan Untuk produsen Akansegera lebih rendah Di 2026, dan 18,1 persen responden Mengantisipasi penurunan pasar lebih Untuk 10 persen Sebagai tahun ini.
Meski demikian, beberapa produsen Kendaraan Pribadi tetap optimistis. Misalnya Xiaomi, yang telah menjual lebih Untuk 410 ribu EV Di 2025, tahun ini menargetkan penjualan 550 ribu unit.
Lalu Leapmotor Mengantisipasi Perkembangan penjualan sebesar 68 persen Sesudah pasar mereka Menimbulkan Kekhawatiran lebih Untuk dua kali lipat Di 2025 dibandingkan 2024.
(ryh/mik)
Artikel ini disadur –> Cnnindonesia News: Pasar Kendaraan Pribadi China Diproyeksi Stagnan 2026, Ini Alasannya











