Ahli Kepuasan Ke China mengidentifikasi Perkara Hukum Hukum alzheimer termuda Ke seorang remaja berusia 19 tahun. Alzheimer merupakan Penyakit neurodegeneratif yang memicu penurunan daya ingat, kemampuan berpikir, dan fungsi kognitif akibat kerusakan sel-sel otak.
Penyakit ini paling sering terjadi Ke orang Didalam usia lanjut dan menjadi penyebab paling umum Didalam Kepuasan demensia. Para ilmuwan begitu bingung kenapa pasien remaja tersebut bisa Memiliki Kepuasan ini.
Dikutip Didalam Daily Mail, pasien yang tak disebutkan namanya ini mulai Merasakan penurunan daya ingat Dari usia 17 tahun. Ia sering lupa apa yang dilakukannya sehari Sebelumnya dan kerap salah ingat Ke mana meletakkan Barang Dagangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ke akhirnya, ia tidak dapat menyelesaikan Belajar sekolah menengah atas, Walaupun mampu hidup mandiri.
Sebelumnya didiagnosis secara resmi menderita alzheimer onset dini, ia menjalani Penanganan Ke sebuah klinik memori Di Di 1 tahun. Ke sana, para ahli menemukan bahwa skor memori keseluruhannya 82 persen lebih rendah dibandingkan teman sebaya seusianya, Sambil Itu skor memori langsungnya 87 persen lebih rendah.
Ke tahun 2022, pemindaian otak Menunjukkan adanya penyusutan Ke hippocampus. Area otak ini berperan penting Di pembentukan memori dan merupakan salah satu area pertama yang terdampak Ke Penyakit alzheimer.
Ahli Kepuasan Ke klinik tersebut Meneliti cairan serebrospinalnya dan menemukan penanda khas alzheimer, termasuk kadar protein amiloid dan protein tau yang tidak normal. Ketika dilakukan penelusuran menyeluruh Pada DNA-nya Sebagai mencari mutasi genetik yang dapat Meningkatkan kerentanan Pada Penyakit ini, hasilnya nihil.
Hampir semua pasien yang didiagnosis alzheimer Ke bawah usia 30 tahun Memiliki mutasi genetik tertentu, seperti PSEN1, Agar diklasifikasikan sebagai alzheimer familial (keturunan). Tetapi, pasien ini tidak Memiliki mutasi gen maupun riwayat keluarga demensia.
Peneliti Didalam Capital Medical University, yang mendeskripsikan Perkara Hukum Hukum ini, Berkata bahwa patogenesis Penyakit tersebut ‘masih perlu dieksplorasi’. Ia Menginformasikan kemungkinan adanya faktor genetik yang belum ditemukan, Komitmen lingkungan yang unik, atau jalur Penyakit yang belum pernah didokumentasikan Sebelumnya.
“Pasien ini merupakan Perkara Hukum Hukum alzheimer termuda yang diketahui tanpa kontribusi genetik yang jelas,” kata para peneliti.
“Meski usia onset pasien sangat dini, ia memenuhi kriteria diagnostik Sebagai demensia Alzheimer probable, sesuai Didalam kriteria National Institute on Aging-Alzheimer’s Association,” sambung mereka.
Alzheimer umumnya merupakan Penyakit usia lanjut, tetapi studi terbaru Menunjukkan angka Perkara Hukum Hukum Ke orang Ke bawah 50 tahun terus Menimbulkan Kekhawatiran.
Menurut laporan Blue Cross Blue Shield, diagnosis Ke kalangan orang dewasa berusia 30-64 tahun yang Memiliki asuransi komersial melonjak 200 persen Ditengah tahun 2013 dan 2017. Usia rata-rata pengidap adalah 49 tahun, dan Kepuasan ini lebih banyak menyerang perempuan, yang mencakup 58 persen Perkara Hukum Hukum.
Lonjakan tajam diagnosis demensia onset dini ini kemungkinan besar mencerminkan deteksi yang lebih baik, bukan ledakan Perkara Hukum Hukum yang sebenarnya. Secara historis, Tanda-Tanda kognitif Ke orang dewasa muda sering disalahartikan sebagai Tekanan atau kelelahan kerja, Agar banyak Perkara Hukum Hukum tidak terdiagnosis.
Faktor Cara Hidup modern seperti pola makan buruk, kurang Latihan, tingginya waktu layar, dan obesitas kini Ditengah diteliti sebagai faktor yang Mungkin Saja berkontribusi Pada peningkatan risiko demensia, terutama Ke usia muda.
Halaman 2 Didalam 3
(avk/kna)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Pasien Alzheimer Termuda Umur 19, Ilmuwan China Bingung Cari Penyebabnya











