Ramai seorang alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Belajar (LPDP) berinisial DS dikecam publik gegara pernyataan Perdebatan ‘cukup saya yang WNI, anak jangan’. Peristiwa Pidana ini Ditengah diproses Dari Divisi Hukum dan Komunikasi LPDP, Mohammad Lukmanul Hakim.
Pembantu Presiden Tim Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa ikut menindak tegas alumni penerima beasiswa LPDP tersebut. Purbaya memastikan suami si alumni yang juga awardee LPDP bakal mengembalikan seluruh dana beasiswa beserta bunganya.
“Dari Sebab Itu, bos LPDP sudah bicara Didalam suami Yang Berhubungan Didalam dan dia sepertinya sudah setuju Sebagai mengembalikan uang yang dipakai LPDP, termasuk bunganya,” beber Purbaya Di konferensi pers APBN KiTA Ke Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berkaca Didalam Peristiwa Pidana Yang Berhubungan Didalam, psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menyinggung soal dinamika psikologis yang terlibat Ke balik unggahan hal pribadi dan cenderung sensitif. Misalnya, berkaitan Didalam kebutuhan validasi dan cara individu mengelola emosi Ke ruang digital, seperti media sosial.
Maka Didalam itu, perlu kesadaran seseorang Di bijak memilah apa saja yang memang aman Sebagai dibagikan Ke media sosial. dr Lahargo menekankan secara psikologis dan etika digital, ada tiga hal yang perlu dipikirkan.
“Tanyakan, ini kebutuhan atau impuls? Kalau diposting Di emosi memuncak, biasanya lebih impulsif dan berisiko disalahpahami,” kata dr Lahargo.
“Perhatikan juga dampak sosial. Topik identitas Negeri, keluarga, atau anak sering menjadi sensitif Sebab menyangkut nilai kolektif Komunitas,” tambahnya.
dr Lahargo juga menekankan prinsip ‘future self’. Ini dilakukan Didalam bertanya Ke diri sendiri, apakah Akansegera tetap merasa nyaman jika postingan ini dilihat lima tahun Ke Di.
Sebab, media sosial merupakan ruang publik yang permanen. dr Lahargo merasa tidak semua yang terasa benar Sebagai diucapkan, Akansegera aman Sebagai dipublikasi.
“Kejadian Luar Biasa Beban Yang Berhubungan Didalam identitas kebangsaan bukan sekadar soal nasionalisme, tapi refleksi kecemasan masa Di. Yang perlu dijaga adalah Kesejaganan Di mengekspresikan keresahan dan menjaga Keadaan mental secara nyata,” pungkasnya.
Halaman 2 Didalam 2
Simak Video “Video Lansia Juga Bisa Alami Gangguan Keadaan Mental, Seperti Apa?“
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Soal Gaduh ‘Anak Jangan WNI’, Ini Hal yang Terlupakan Ke Balik Konten Haus Validasi











