Belakangan ramai Peristiwa Pidana Hukum seorang pria bernama Raihan Mufazzar (21) yang membacok mahasiswi UIN Suska Riau, Faradilla Ayu Pramesti (23). Polisi menyebut motif Di balik penganiayaan tersebut akibat cintanya ditolak.
“Di korban dan pelaku ini mereka saling mengenal. Di Sebab Itu pelaku ini Di sengaja sudah punya niat mau menganiaya korban,” ujar Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru AKP Anggi Rian, dilansir detikSumut, Jumat (27/2/2026).
Untuk hasil pemeriksaan Di Mapolsek Bina Widya terungkap Unjuk Rasa itu dilakukan Sebab asmara. Pelaku tak terima cintanya ditolak korban.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Motif Sambil ini Sebab cinta ditolak ya. Di Sebab Itu pelaku sengaja datang Untuk Tempattinggal mau menarget korban, makanya bawa kampak dan parang. Tapi Terbaru kampak yang pelaku gunakan,” kata Anggi Rian.
Kurangnya Pemahaman Gen Z soal Hubungan
Berkaca Untuk Peristiwa Pidana Hukum tersebut, Ahli Kebugaran spesialis Kesejaganan jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menyoroti kurangnya pemahaman Gen Z soal relasi atau hubungan. Hubungan toksik yang berujung Ke terjadinya Kekejaman, Justru Luka dan kematian sering terjadi Ke generasi muda.
Ia mengatakan kurangnya panduan dan role model menyebabkan generasi Z Pada ini kehilangan arah tentang bagaimana menjalin hubungan yang sehat.
“Generasi Z adalah generasi yang tumbuh Di era digital, Di mana relasi banyak dibangun lewat DM, story, dan notifikasi. Kedekatam bisa terasa instan, tapi Di Untuk relasi, emosional bounding belum tentu terbangun,” ucap dr Lahargo Untuk keterangan tertulis yang diterima detikcom, Minggu (1/3/2026).
“Di sisi lain, tekanan sosial, fear of missing out (FOMO), dan Kearifan Lokal Dunia validasi online membuat banyak anak muda sulit membedakan mana hubungan yang sehat dan mana yang melelahkan secara emosional. Tidak jarang banyak anak muda jaman sekarang yang terikat Di hubungan yg toksik Di pasangannya,” sambungnya.
Ada beberapa tantangan khas gen Z Untuk menjalani hubungan, seperti:
- Validasi digital, Di mana seseorang merasa hubungan harus terlihat ‘sempurna’ Di media sosial.
- Overthinking Sebab chat, seperti salah tafsir tanda baca, last seen, atau slow response, centang 2 tapi tidak dibalas.
- Fear of abandonment, perasaan takut ditinggal Supaya rela mengorbankan nilai hidup yang dimiliki.
- Paparan toxic relationship online, yang membuat seseorang menganggap drama sebagai tanda cinta.
- Gen Z sangat ekspresif secara emosional, tetapi sering belum Menyambut Kemahiran regulasi emosi yang cukup.
Halaman 2 Untuk 2
(sao/kna)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Ramai Pria Bacok Mahasiswa UIN Suska Riau, Psikiater Soroti Pemahaman Gen Z soal Hubungan











