Angka Bunuh Diri Di Singapura Mengkhawatirkan, Peristiwa Pidana Usia 30-an Melonjak 50 Persen

Jakarta

Singapura mencatat 441 Peristiwa Pidana bunuh diri sepanjang 2024. Angka ini Menunjukkan kenaikan signifikan Di kelompok usia 30 hingga 39 tahun, meski jumlah Peristiwa Pidana Di kelompok umur lainnya justru Merasakan penurunan.

Berdasarkan data final Didalam Immigration and Checkpoints Authority (ICA) yang dirilis Samaritans of Singapore (SOS), terdapat 99 Peristiwa Pidana bunuh diri Di kelompok usia 30-39 tahun sepanjang 2024. Jumlah itu Meresahkan 50 persen dibandingkan 66 Peristiwa Pidana Di 2023.

SOS menyebut bunuh diri kini menjadi penyebab kematian nomor dua Di kelompok usia tersebut. Berdasarkan pengamatan Didalam layanan krisis 24 jam yang mereka kelola, orang dewasa usia 30-39 tahun banyak Berusaha Mengatasi tekanan kompleks, mulai Didalam persoalan keluarga, pekerjaan, hingga isolasi sosial.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sambil Itu, data Sambil Menunjukkan terdapat 256 Peristiwa Pidana bunuh diri Di Singapura Di 2025. Akan Tetapi, SOS mengingatkan angka tersebut masih dapat berubah Sesudah seluruh proses investigasi rampung.

Sebelumnya Itu, angka Sambil Peristiwa Pidana bunuh diri Di 2024 hanya tercatat 314 Peristiwa Pidana. Sesudah penyelidikan koroner selesai, jumlah tersebut direvisi menjadi 441 Peristiwa Pidana.



Pejabat Tingginegara Koordinator Keselamatan Nasional sekaligus Pejabat Tingginegara Di Negeri Singapura K Shanmugam menjelaskan data Sambil hanya mencakup Peristiwa Pidana yang telah dipastikan sebagai bunuh diri Pada laporan diterbitkan. Sejumlah kematian tidak wajar masih menunggu hasil penyelidikan koroner Supaya dapat direklasifikasi menjadi bunuh diri Sesudah proses selesai.

Mayoritas Korban adalah Pria

Didalam total 441 Peristiwa Pidana bunuh diri Di 2024, sebanyak 290 korban atau 65,8 persen merupakan laki-laki. Sambil 151 korban atau 34,2 persen adalah perempuan.

SOS menilai kesenjangan tersebut paling terlihat Di kelompok usia 60 tahun Hingga atas. Di kelompok ini, angka bunuh diri Di pria Di tiga kali lebih tinggi dibandingkan perempuan.

Menurut SOS, berbagai Studi Menunjukkan laki-laki cenderung lebih terisolasi secara sosial, lebih enggan mencari Dukungan Pada Merasakan tekanan emosional, serta lebih sering menggunakan metode yang mematikan Di percobaan bunuh diri.

Di kelompok lansia, persoalan Kesejajaran dan kesepian menjadi faktor yang paling banyak ditemukan seiring menurunnya Situasi fisik, mobilitas, dan hubungan sosial.

Di sisi lain, meski hanya menyumbang Di sepertiga Peristiwa Pidana bunuh diri, perempuan mencakup 62,5 persen Didalam seluruh panggilan dan pesan yang diterima layanan krisis SOS. Hal ini Menunjukkan perempuan lebih cenderung mencari Dukungan Pada Berusaha Mengatasi tekanan psikologis, termasuk beban pengasuhan dan Kekejaman berbasis gender.

Masih Karena Itu Penyebab Kematian Utama Anak Muda

SOS juga melaporkan bunuh diri masih menjadi penyebab kematian utama Di kelompok usia 10-29 tahun Di Singapura. Permasalahan yang banyak dihadapi kelompok usia ini berkaitan Didalam tekanan keluarga, Pembelajaran, dan hubungan interpersonal.

Secara keseluruhan, angka kematian akibat bunuh diri Di Singapura naik tipis menjadi 8,23 per 100.000 penduduk Di 2024.

Direktur Medis Connections MindHealth, dr Jared Ng, mengingatkan setiap angka mewakili kehilangan yang mendalam Untuk keluarga.

“Ini seharusnya bukan hanya sekadar angka. Di balik setiap Peristiwa Pidana ada orang tua yang terus bertanya apa yang mereka lewatkan, atau teman yang berharap sempat menghubungi kembali. Kesedihan itu bisa bertahan seumur hidup,” ujarnya, dikutip Didalam CNA, Selasa (28/7/2026).

Sepanjang setahun terakhir, SOS menangani lebih Didalam 55 ribu panggilan dan percakapan Lewat layanan hotline 24 jam dan CareText. Organisasi tersebut juga menyebut berhasil mencegah satu upaya bunuh diri berisiko tinggi setiap 13 jam Lewat intervensi krisis.

Selain layanan darurat, SOS melatih lebih Didalam 2.000 orang Di sekolah, tempat kerja, dan komunitas agar mampu mengenali tanda-tanda seseorang Merasakan krisis psikologis dan mengarahkannya Hingga layanan Dukungan yang sesuai. SOS juga Memberi konseling tatap muka dan kelompok Dukungan kepada lebih Didalam 1.200 orang yang Merasakan krisis emosional.

CEO SOS Terry Siow menegaskan Upaya Mencegah bunuh diri tidak bisa hanya dibebankan kepada tenaga Kesejajaran mental atau layanan krisis.

“Upaya Upaya Mencegah membutuhkan peran semua pihak, mulai Didalam keluarga, teman, rekan kerja, hingga tetangga Untuk mengenali Pada seseorang Lagi kesulitan, berani memulai percakapan, dan mengarahkannya Hingga Dukungan yang tepat,” katanya.

Halaman 2 Didalam 2

(naf/naf)



Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Angka Bunuh Diri Di Singapura Mengkhawatirkan, Peristiwa Pidana Usia 30-an Melonjak 50 Persen