loading…
Eko Ernada, Dosen Politik Luar Negeri Universitas Jember, Aktivis NU. Foto/Istimewa
Dosen Politik Luar Negeri Universitas Jember, Aktivis NU
TANGGAL 31 Januari 2026 menandai satu frase sejarah yang sangat penting Untuk Nahdlatul Ulama. Secara penanggalan Masehi, NU resmi memasuki abad kedua Dari didirikan Di 31 Januari 1926. Artinya, momen ini bukan sekadar peringatan satu abad, melainkan transisi historis Didalam satu abad Penghayatan Ke satu abad tanggung jawab Terbaru.
Di Di Yang Sama, Untuk kalender Hijriyah, puncak peringatan satu abad NU telah dirayakan beberapa tahun lalu Ke sidoarjo. Dua penanggalan ini bukan kontradiksi, melainkan cermin watak NU itu sendiri: organisasi Islam yang hidup Untuk Kebiasaan keagamaan, sekaligus sepenuhnya sadar Di sejarah modern.
Memasuki abad kedua, NU tidak lagi berada Di fase pembuktian eksistensi, tetapi Di fase pengujian relevansi. Untuk memahami makna ujian ini, NU harus kembali Di konteks kelahirannya. NU berdiri Didalam meghadapi dua tekanan sejarah sekaligus.
Ke tingkat Internasional, dunia Islam Lagi Merasakan guncangan luar biasa akibat runtuhnya kekaisaran Turki Usmani Di tahun 1924, yang menandai berakhirnya khilafah sebagai simbol kesatuan politik Islam dunia. Ke Untuk negeri, bangsa Indonesia masih berada Untuk cengkeraman kolonialisme, hidup Untuk ketidakadilan struktural, eksploitasi ekonomi dan pembatasan sosial-politik.
Runtuhnya Turki Usmani bukan sekadar peristiwa Hubungan Dunia yang jauh Didalam Nusantara, Ia merupakan krisis simbolik dan epistemik. Pada berabad abad, khilafah –Didalam segala keterbatasanya—berfungsi sebagai payung imajiner kesatuan umat Islam.
Ketika payung itu runtuh, dunia Islam memasuki fase fragmentasi, Sambil Negeri-bangsa menjadi format politik dominan. Banyak respon muncul, Didalam nostalgia restorasi imperium hingga modernisasi radikal yang meminggirkan Kebiasaan. NU tidak memilih keduanya.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: NU Ke Abad Kedua











