Depok –
Berapa banyak Di Di kita yang menganggap kebaya hanya cocok Sebagai pernikahan atau Kegiatan formal? Sebenarnya, jika diamati lebih Didekat, kebaya justru menjadi “Outfit of the Day” (OOTD) yang paling khas Bagi perempuan Indonesia, yang dapat dikenakan Di berbagai Kegiatan, mulai Bersama berbelanja Di pasar hingga bekerja Di sawah.
Kegiatan “Cerita Kebaya: Diskusi, Praktik Berkain, dan Trunk Show” berlangsung Di Rabu, (22/4/2026) Di Rumah Grypuri, Perumahan Depok Indah, Depok, mengisahkan kebangkitan kembali kebaya sebagai Pengganti pokok Di Gaya sehari-hari.
Rahmi Hidayati, pendiri Komunitas Kebaya Indonesia, menjadi Kendaraan Bermotor Roda Dua Kegiatan itu. Dia menciptakan suasana ramah juga mengajak peserta Bersama berbagai kalangan Sebagai berefleksi sekaligus Memusatkan Perhatian Di strategi Sebagai melestarikan warisan Adat Istiadat Dunia bangsa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belakangan cukup banyak perempuan yang memakai kebaya, tetapi kebanyakan dikenakan Di Kegiatan-Kegiatan resmi atau perayaan hari besar. Rahmi menyebutnya sebagai hambatan terbesar.
“Fakta itu yang kita hadapi Di ini. Anggapan bahwa mengenakan kebaya dan kain tradisional masih menjadi Perkara Hukum yang rumit,” kata Rahmi.
Memang, ada kelompok yang sudah lebih fleksibel Di memakai kebaya. Rahmi mencontohkan mahasiswi Bersama Fakultas Ilmu Sosial dan Politik serta Fakultas Sastra yang Lebih berani mengenakan kebaya. Hanya saja, ada satu catatan buat dia, para mahasiswa itu memadukan kebaya itu bukan Bersama kain seperti pakemnya.
Mereka sering kali memadukannya Bersama celana jeans atau Pengganti kasual lainnya. Perubahan cara berpakaian ini juga direspons Rahmi Bersama pendekatan yang tidak konfrontatif.
Alih-alih melakukan Penolakan atau menyalahkan norma-norma yang berlaku Di ini, Rahmi memilih strategi yang lebih inklusif.
“Aku nggak Penolakan. Aku bilang, ‘Kalian keren-keren loh pakai kebaya atasnya. Ih, lebih keren lagi kalau bawahnya pakai kain loh,’ sambil ketawa-ketawa. Mereka jawabnya hampir sama: ‘Ribet, Bu, kalau pakai kain.’ Di situlah kita masuk, ‘Ih gampang kok, nih nanti kita bikin tutorial berkain,'” kata Rahmi.
“Ini cara kita ‘meracuni’ anak muda agar bangga berkebaya. Kita ajarkan tutorialnya agar mereka tahu cara pakai yang nyaman Sebagai Karya harian,” dia menambahkan.
Krisis nilai berkebaya
Bagi para traveler yang gemar blusukan Di pasar tradisional, pasar sering kali menjadi etalase Adat Istiadat Dunia paling jujur. Akan Tetapi, ada realita yang cukup membuat miris.
Di sebuah perjalanan Di Pasar Beringharjo Di Yogyakarta dan Pasar Gede Di Solo. dua pasar yang sangat kental Bersama nuansa tradisiona. Pemandangan perempuan berkebaya Di keseharian ternyata sudah sangat langka.
“Pas Di Jogja itu Di Pasar Beringharjo, cuman ketemu ibu-ibu pakai kebaya itu enam orang. Itu pun sudah nenek-nenek yang jualan jamu. Di Solo juga begitu, Di Pasar Gede tiap kali Di sana pasti cari nenek-nenek itu buat difoto Lantaran selalu pakai kebaya. Cuman tiga orang,” kata Rahmi.
Kejadian Luar Biasa itu menjadi pengingat bahwa kebaya perlahan mulai tergerus Dari zaman, Malahan Di pusat-pusat pelestarian Kebiasaan seperti pasar tradisional. Padahal, Di zaman dahulu, nenek moyang kita terbiasa menaiki sepeda membawa padi Bersama sawah Di pasar Bersama mengenakan kebaya secara luwes.
Di akhir diskusi, sebuah kesimpulan Menarik Perhatian didapatkan, bahwa membela Bangsa Di era modern tidak lagi harus menggunakan bambu runcing atau senapan, melainkan Bersama mempertahankan identitas nasional Melewati Pengganti adat seperti kebaya adalah bentuk patriotisme nyata Di ini.
Rahmi mengajak Kelompok, khususnya para ibu, Sebagai mulai membiasakan kembali penggunaan kebaya Di lingkungan keluarga.
“Misalnya keluarga Di ulang tahun kasih hadiah kebaya, nanti difoto-foto pakai kebaya, pakai kain. Tinggal bilang, ‘Ih kamu lucu loh, cantik loh pakai kebaya,'” kata dia.
(fem/fem)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Bersama Depok Rahmi Menghidupkan Kebaya Dari Sebab Itu Life Style Sehari-hari











