Jakarta –
Kejadian menghebohkan terjadi Di sebuah restoran seafood Vietnam. Insiden ini bermula ketika restoran tidak Merasakan pembayaran sebesar Rp 11,3 juta Di rombongan pelanggan.
Menjalani sebuah usaha Masakan tentu tidak luput Di masalah. Selain pertikaian kecil Bersama pelanggan, salah satu yang Mungkin Saja kerap terjadi adalah insiden lost bill atau ketika tagihan hilang tidak dibayar.
Hal-hal seperti ini bisa terjadi Lantaran beberapa macam faktor. Mulai Di kelalaian operasional, Kesalahan Individu sistem, tindakan kecurangan karyawan, atau Malahan kecurangan dilakukan Bersama pelanggan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terbaru insiden seperti ini terjadi Di sebuah restoran Di Vietnam. Dilansir Di vietnamnet.vn (26/6), tagihan Untuk hidangan seafood senilai 620 USD (Rp 11.136.440) belum terbayarkan.
Insiden ini terjadi ketika ada rombongan pelanggan menghabiskan waktu makan malamnya Di pukul 21.00 Di restoran Hai San Viet Tri Di jalan Vu The Lang, Provinsi Phu Tho, Vietnam Utara.
Usai kejadian tersebut, polisi setempat turun tangan melakukan penyelidikan. Menurut polisi, seorang pria yang diindetifikasikan sebagai ‘T’ awalnya bertemu Bersama seorang wanita Lewat media sosial. Lalu ia mengundang teman-temannya yang lain Untuk makan malam Di restoran tersebut.
Pemilik restoran ‘H’ Membeberkan jika rombongan T dan lima wanita serta tujuh anak-anak menempati dua Tatakan Di restoran.
Rombongan tersebut memesan sejumlah seafood premium, termasuk hidangan King Crab, Alaska lobster, Horseshoe Crab, Ca Mau Crab, siput babylon, dan beberapa minuman. Di Di Itu, seafood yang dipesan juga rata-rata beratnya mencapai 4 kilogram yang sudah pasti harganya Berencana lebih mahal.
Sesudah mereka makan, rombongan tersebut meminta staff membungkus sisa Konsumsi Untuk dibawa pulang Bersama anak-anaknya. Tagihan makannya pun mencapai jumlah yang disebutkan Sebelumnya, yaitu Di 620 USD atau Rp 11,3 juta.
|
Bukti struk tagihan makan pelanggan yang tidak bayar Di restoran tersebut. Foto: Duc Hoang.
|
Pemilik restoran mengaku awalnya malam itu tampak normal. Akan Tetapi, Sesudah 30-40 menit rombongan makan, T tiba-tiba berbaring Di lantai restoran, berteriak keras, dan mulai berbicara tidak jelas.
Pada kejadian berlangsung, pihak restoran belum menyiapkan tagihan. Para wanita dan anak-anak Di rombongan tersebut berakhir meninggalkan restoran dan meninggalkan T sendirian.
Staff restoran lantas menghubungi pihak kepolisian Distrik Viet Tri, dan membawa T Di kantor polisi Untuk diinterogasi. Polisi Membeberkan T menolak bekerja sama Pada interogasi dan menolak menandatangani dokumen resmi.
Keluarganya Lalu memberi tahu penyidik bahwa T telah Menunjukkan tanda-tanda masalah psikologis Sebelumnya kejadian tersebut terjadi. Penyelidik Lalu Membeberkan detail lain yang dibagikan Bersama oreng tua T.
Rupanya ini bukan pertama kalinya T melakukan Unjuk Rasa seperti itu. Sebelumnya, ia juga terlibat Di insiden serupa Di Vietnam Selatan, Di mana ia dilaporkan menggunakan sebuah layanan tanpa membayar.
Pihak berwenang juga memeriksa harga Konsumsi Di restoran dan tidak menemukan indikasi manipulasi harga. Pemilik restoran menyimpulkan kemungkinan sulit Merasakan kembali uang tersebut, terlebih Bersama Kepuasan T yang seperti itu.
Pemilik restoran mengaku siap Merasakan kerugian tersebut sendiri. Foto: Duc Hoang. |
“Sesudah berbicara Bersama polisi, kami Memahami bahwa kecil kemungkinan Merasakan kembali pembayaran tersebut, Bersama Sebab Itu kami siap Merasakan kerugian itu sendiri,” ujarnya.
Sesudah insiden ini viral, salah satu wanita Di rombongan tersebut menghampiri pemilik restoran H. Mereka mengaku kejadian itu Di luar kendali dan dia Berencana Menyoroti masalah ini Bersama yang lain Sebelumnya Menyediakan tanggapan resmi.
Akan Tetapi, hingga 26 Juni 2026, tidak ada seorang pun Di rombongan yang kembali dan melunasi tagihan yang belum dibayar.
Perkara Pidana Hukum ini memicu perdebatan Di Di para ahli hukum tentang siapa yang Di akhirnya Berencana bertanggung jawab membayar tagihan makan.
Nguyen Thanh Hai, Direktur Firma Hukum An Hoang Gia dan anggota Asosiasi Pengacara Hanoi mengatakan jika penyelidik menentukan bahwa para pengunjung restoran pergi hanya Lantaran takut Bersama sikap T tetapi Lalu secara sukarela menghubungi restoran Untuk menyelesaikan masalah tersebut, tindakannya Berencana Menunjukkan niat baik dan bisa mendukung penyelesaian masalah Lewat Perundingan.
Ahli hukum lainnya, Hai merasa tanggung jawab harus dipertimbangkan bertahap. Jika tidak ada kesepakatan yang dapat dicapai, pihak berwenang harus menentukan siapa yang sebenarnya melakukan transaksi Bersama restoran.
(aqr/adr)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Heboh! Tagihan Makan Seafood Rp 11,1 Juta Di Restoran Belum Dibayar












