loading…
Blue Moon Hall, ballroom multifungsi Di teras menghadap jalan raya dan Kali Besar. Foto-foto: IMG/Armydian Kurniawan
Sesudah menelusuri kanal Batavia, kisah Peranakan, ruang-ruang bersejarah, jejak Bung Karno, hingga cerita Charlie Chaplin Ke House of Tugu Old Town Jakarta, perjalanan kali ini berlanjut Ke sisi yang lebih hangat dan personal. Bukan lagi tentang tokoh atau artefak, melainkan tentang bagaimana Kearifan Lokal Global Peranakan, Nusantara, dan warisan Jakarta diterjemahkan menjadi Penghayatan Masakan yang dapat dinikmati setiap tamu.
Malam mulai turun ketika kami singgah Ke Jajaghu Restaurant, House of Tugu. Restoran ini menjadi salah satu pusat Kegiatan Masakan Ke kompleks tersebut. Buka mulai pukul 12.00 WIB hingga 23.00 WIB. Akan Tetapi tempat ini lebih Di sekadar ruang makan. Berbagai artefak dan kisah sejarah tetap hadir Ke Antara Perabot-Perabot tamu.
Baca Juga : Menembus Lima Abad Sejarah Jakarta Di Kamar House of Tugu Ke Kota Tua
Batang, dahan dan ranting asli pohon maja yang diawetkan menjadi dekorasi interior nan eksotis Ke Jajaghu Restaurant.
Di salah satu sisi ruangan berdiri patung besar Raja Kertanegara yang memerintah Singasari Di 1268 hingga 1292. Patung tersebut berdiri tegak Ke Antara batang, dahan dan ranting asli pohon maja yang dicat putih sebagai dekor Ke seantero dinding Pada atas restoran. Pohon itu ditemukan Di proses renovasi bangunan tua ini. “Kami mempertahankan Pada pohon aslinya,” kata Indriana Amanda Ticoalu, Guest Relation Manager House of Tugu Old Town Jakarta.
Cabang-cabang pohon yang ditemukan tidak dibuang. Sebagai Alternatif, Pada tersebut diawetkan dan dijadikan elemen interior. Ketika cahaya lampu menerangi Pada atasnya, bentuk Pada pohon itu Memperkenalkan karakter yang berbeda dibanding restoran Di umumnya.
Set menu Peranakan Afternoon Tea terdiri atas aneka kue basah jajanan pasar plus es campur khas Tugu.
Di itu jadwal Peranakan Afternoon Tea sebenarnya sudah terlewat. Paket tersebut biasa disajikan pukul 16.00 WIB. Akan Tetapi Lantaran hotel tour berlangsung cukup panjang, afternoon tea akhirnya disajikan bersamaan Di makan malam.
Amanda menjelaskan Kearifan Lokal minum teh sore Di camilan ringan lahir Di proses akulturasi panjang Komunitas Peranakan Ke Nusantara. “Ini penghormatan Sebagai warisan Kearifan Lokal Global Peranakan,” ujarnya.
Baca Juga : Menjelajah Batavia Lama, Jejak Bung Karno hingga Charlie Chaplin Ke Kota Tua Jakarta
Menu yang tersaji Memperkenalkan berbagai resep turun-temurun. Kue putu, lapis jongkong, cantik manis, talam ubi, hingga es campur khas Tugu hadir Untuk satu rangkaian. Hidangan modern juga muncul Melewati smoked rawon dan short rib bao serta balinese ayam pelala. Harga paket Peranakan Afternoon Tea dipatok Rp225 ribu per orang.
Nasi Tumpeng Merdeka dan Minuman Kafein Di Lereng Kelud

Nasi Tumpeng Merdeka, menu utama makan malam.
Makan malam berlanjut Di menu andalan bernama Nasi Tumpeng Merdeka. Hidangan utama tersebut mengusung tagline “Bhinneka Rasa, Satu Bangsa”. Filosofinya mencerminkan keberagaman Indonesia Untuk satu Perabot makan.
Nasi merah dan nasi gurih menjadi pusat sajian. Ke sekelilingnya tersusun daging sapi cabai hijau, bebek betutu, udang bumbu rujak, urap sayur, lodeh, dan peyek kacang. Pilihan sambalnya juga beragam. Mulai sambal kecombrang, matah, dabu-dabu, bajak, lado mudo, hingga sambal ikan jambal.
Sebelumnya hidangan utama, tamu disuguhi red snapper kecombrang crudo. Sesudah itu hadir minced lamb la lot in kailan leaf. Di penghujung santap malam, sticky oolong toffee pudding dan coconut pineapple island menjadi penutup. “Menu kami banyak terinspirasi perjalanan Kearifan Lokal Global Nusantara,” kata Amanda. Selepas makan malam kami pun kembali Ke kamar.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Mencicipi Lima Abad Jakarta Di Perabot Makan, Warisan Masakan Peranakan Ke Kota Tua











