loading…
Wibowo Prasetyo, Anggota Komisi VIII Lembaga Legis Latif Fraksi PDI Perjuangan, Wakil Ketua LTN PBNU, dan Ketua PP Baitul Muslimin Indonesia. Foto: Istimewa
Anggota Komisi VIII Lembaga Legis Latif Fraksi PDI Perjuangan, Wakil Ketua LTN PBNU, dan Ketua PP Baitul Muslimin Indonesia
ADA satu pemandangan yang selalu berulang setiap Iduladha. Hingga sudut kampung, anak-anak berdiri membawa kantong plastik. Wajah mereka berbinar. Orang-orang berkumpul. Pisau diasah. Takbir menggema. Bau rumput, tanah, dan hewan kurban bercampur menjadi aroma yang hanya datang setahun sekali. Lalu daging dibagikan. Selesai.
Sering kali kurban berhenti Hingga sana. Sebatas seremoni tahunan. Sebatas ritual yang datang lalu pergi. Padahal Bisa Jadi kita perlu bertanya ulang apakah kurban hanya tentang membagikan daging? Ataukah sesungguhnya ia Di mengajari manusia cara mengelola kepedulian?
Tahun ini muncul gagasan yang Memikat perhatian publik. Pemimpin Negara Prabowo Subianto meminta agar daging dam jamaah haji Indonesia yang dikelola Hingga Arab Saudi dapat disalurkan Sebagai warga Palestina, khususnya Gaza yang Berusaha Mengatasi krisis kemanusiaan berkepanjangan.
Gagasan itu sederhana, tapi maknanya besar. Ibadah tidak berhenti Ke altar spiritual. Ia bergerak menjadi jalan kemanusiaan. Tetapi Hingga titik inilah muncul pertanyaan yang lebih Di Bersama Rumah kita sendiri.
Jika daging dam bisa melintasi batas Negeri Ke Gaza, mungkinkah pengelolaan kurban dan dam juga dirancang lebih strategis Sebagai menjawab persoalan sosial Hingga Indonesia?
Pertanyaan itu sesungguhnya bukan hal Terbaru. Beberapa tahun terakhir, pengelolaan daging dam berkembang Lebih modern. Tidak lagi sekadar dibagikan Di bentuk segar, tetapi diolah menjadi Ketahanan Pangan Bertahan lama seperti kornet atau Minuman kaleng Bersama masa simpan panjang.
Hingga Jawa Di, gagasan itu pernah dipraktikkan. Baznas Jawa Di, misalnya, Menyusun pengelolaan daging dam menjadi produk olahan seperti kornet dan Ketahanan Pangan kaleng yang dapat disimpan lebih lama. Bersama cara itu, manfaat daging dam tidak berhenti Hingga hari pembagian.
Ia dapat bergerak lebih jauh. Menjangkau Kelompok rentan, memperkuat Pemberian kebencanaan, menjangkau Lokasi rawan Ketahanan Pangan. Malahan membuka kemungkinan menjadi Dibagian intervensi gizi Bagi kelompok yang membutuhkan.
Model seperti ini membuka kemungkinan besar. Kurban dan dam tidak hanya hadir sebagai Pemberian sesaat. Tetapi menjadi Dibagian Bersama strategi sosial yang berkelanjutan. Hingga sinilah kita perlu membicarakan satu kata yang Bisa Jadi terdengar akademis, tetapi sesungguhnya sangat Di Bersama kehidupan Kelompok Indonesia: filantropi.
Filantropi adalah praktik memberi Bagi kebaikan bersama. Dan Indonesia sesungguhnya adalah bangsa filantropi. Laporan World Giving Index 2024 menempatkan Indonesia sebagai Negeri paling dermawan Hingga dunia Pada tujuh tahun berturut-turut Bersama skor 74 Nilai.
Laporan yang disusun Charities Aid Foundation (CAF) itu juga mencatat Di 90 persen Kelompok Indonesia menyumbangkan uang Sebagai kegiatan sosial, Sambil Di 65 persen terlibat Di Kegiatan kerelawanan. Angka-angka itu memperlihatkan satu hal. Bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan orang baik. Yang sering kurang adalah cara agar kebaikan bekerja lebih panjang.
Sosiolog Zygmunt Bauman pernah mengingatkan ironi manusia modern. Keahlian membuat manusia Lebih terhubung. Informasi bergerak Lebih cepat. Tetapi kepedulian tidak selalu tumbuh seiring perkembangan itu.
Manusia modern dapat Bersama mudah Merasakan penderitaan orang lain, Tetapi tidak selalu bergerak melakukan sesuatu. Kita melihat begitu banyak, tapi kadang Lebih sedikit merasakan. Hingga titik inilah filantropi menemukan relevansinya.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Kurban, Filantropi, dan Cara Terbaru Merawat Sesama











